:: Selamat datang diKabupaten Gunungkidul ::
Selamat Datang di Kabupaten Gunungkidul

.:: Berita Daerah ::.

Ikatan Mahasiswa Gunungkidul (IMG) membuka Posko pengaduan Pokja Pendidikan Gratis di DIY di Alun-alun Wonosari. Meski telah dibuka posko pengaduan sejak awal pendaftaran siswa baru, namun belum banyak warga yang mengadukan.

Menurut koordinator IMG Roy, Selasa (10/7) Posko di Gunungkidul baru pertama kali dibuka dan bertujuan untuk menghimpun keluhan dan aspirasi masyarakat. Termasuk pengaduan terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di DIY khususnya di Gunungkidul.

IMG sangat peduli terhadap kondisi masyarakat Gunungkidul terutama dalam hal pendidikan. Posko yang sudah digelar hampir dua minggu hanya ada satu pengaduan dari warga Patuk. Setelah ditindaklanjuti ternyata hanya ada salah paham antara pengadu dengan pihak sekolah dan kini sudah dapat diselesaikan.

Sebenarnya IMG sangat berharap ada aspirasi dari masyarakat terutama orang tua yang dapat kejanggalan seputar penerimaan siswa baru maupun penyelenggaraan pendidikan. Mengingat Propinsi DIY mencanangkan 2007/2008 sebagai tahun pendidikan gratis.

Selain menunggu pengaduan dari masyarakat, tim Posko pengaduan juga melakukan pemantauan di sejumlah sekolah baik untuk sekolah favorit, sekolah standar maupun sekolah pinggiran.

Terutama mengenai biaya sekolah dan masalah-masalah lainnya. "Bukan berarti kami ingin interbensi, namun kami hanya ingin ikut berjuang agar pendidikan di daerah ini benar-benar terjangkau sampai rakyat kecil," kata Roy.

Sementara itu angket survei yang sudah disebar antaa lain untuk sekolah favorit diharapkan minimal lima siswa bersedia mengisi angket, dari sekolah standar minimal 3 siswa dan dari sekolah pinggiran dapat sebanyak-banyaknya. Demikian juga angket ditujukan kepada orang tua murid.

Isi angket menyangkut daftar penghasilan orang tua, besarnya biaya pendaftaran siswa baru, pelaksanaan pendaftaran kembali. Selain itu pertanyaan yang diajukan menyangkut keterlibatan orang tua murid dalam penyusunan rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Juga tentang biaya seragam sekolah, sumbangan pembangunan, biaya ekstrakurikuler, besarnya SPP, dana untuk komite sekolah, praktikum dan biaya lain.

Dari hasil angket ini akan dilaporkan ke Posko Umum di DIY selanjutnya akan disimpulkan dan menjadi masukan kepada Bupati dan DPRD setempat.

Sementara itu pasca pendaftaran sekolah negeri, terjadi perang spanduk dari sekolah-sekolah swasta. Dilokasi-lokasi strategis, banyak terpampang spanduk dari sekolah swasta yang mempromosikan keunggulan masing-masing. Walaupun ada juga sekolah swasta yang sudah memenuhi kota atau lebih. Seperti di SMK Pembangunan Karangmojo sudah mendapatkan 4 kelas.

Secara umum  belum dapat diketahui sekolah negeri yang kekurangan siswa, karena sampai saat ini belum seluruh laporan masuk. Tetapi seperti SMK Tanjungsari masih kekurangan siswa. Daya tampungnya 3 kelas, tetapi baru mendapat satu kelas lebih sedikit. Kemungkinan beberapa sekolah negeri yang ada di pinggiran masih kekurangan siswa.

Hal senada juga diungkapkan Kasi Kurikulum Bidang Pendidikan Lanjutan Pertama (PLP) Dinas Pendidikan Gunungkidul Drs Winarto. Sekarang ini belum dapat diketahui secara resmi sekolah negeri yang belum memenuhi kuota/daya tampungnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul Drs H Sudodo MM meminta sekolah untuk menepati jadwal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Kepada siswa yang menempuh ujian kejar paket B, karena hasilnya dalam dapat diketahui diminta tetap mendagtarkan kepada sekolah lanjutan yang masih belum terpenuhi daya tampungnya.

Jika nanti ujian kejar paket lulus, yang bersangkutan dapat meneruskan kegiatan belajar, tetapi jika belum dapat menempuh program ujian bulan Oktober.(Kedaulatan Rakyat 12/07 2007)

| dibaca 1481 kali | 00/00/0000 00:00 WIB
Total Konten : -
Halaman